Khawatir, takut... : tentang perasaan yang belakangan menghadang

 

Belakangan, perasaan ini sering sekali muncul pada diri. Cukup sering perasaan itu datang secara tiba-tiba. Tapi ga jarang juga perasaan itu datang karena overthinking.

Tulisan ini mungkin akan tidak rapih, karena yaa memang hanya ingin menuangkan perasaan yang belakangan sedang mengisi. Daripada tertahan dalam diri, yang sewaktu-waktu bisa tumpah atau meledak dan menyebabkan yang tidak tidak. Jadi, ku tuangkan dalam tulisan ini.

Yaa, 21 Maret 2021 ini adalah tepat 6 bulan setelah menyelesaikan sidang akhir sarjana dan sebulan setelah wisuda. Jujur, sebenernya antara siap ga siap untuk melangkah ke fase selanjutnya dalam hidup..

Siap, karena memang sadar betul bahwa chapter kehidupan perkuliahan akan (dan sudah) berakhir. Ga siap, karena merasa sangat kurang cukup bekal yang akan dibawa untuk melangkah ke chapter berikutnya dalam hidup.

Terlebih, pandemi menghampiri. Semester terakhir pekuliahan menjadi terasa sangat amat tidak bermakna. Khawatir dan takut yang dirasakan mungkin dimulai dari sini.

Lulus tanpa jalur skripsi sedikit banyak membuat insecure, takut dan khawatir pun. Otak seperti menjadi tidak terasah sedari itu. Ketika mendekati hari-hari terakhir untuk sidang, rasanya seperti terjadi secara cepat, dan mendadak.

21 September 2020, hari terakhir itu tiba. Deg-degan tentu. Ketika memang sudah waktunya, bismillah. Mengalir saja. Bersyukur, akhirnya dapat menyelesaikan dengan baik. Alhamdulillah.

Waktu terus berjalan, perasaan itu terus menghantui. Bisa datang tiba-tiba, kemudian pulih dengan sendirinya. Terus berulang.

Terkungkung, seakan tak bisa lepas. Sudah coba berdiri, jatuh lagi. Sudah coba berjalan, tapi tertatih. Bingung harus apa lagi..

6 bulan, bukan waktu yang sebentar. Bukan juga tak melakukan apa-apa. Ada masa saat sedang dalam keadaan yang sangat baik, semua sangat positif. Bisa mulai mencoba UI/UX, bisa lebih sering olahraga, bisa ikut berdagang, yaa kurang lebih itu terjadi selama 6 bulan ini. Tapi, apa yang belum?

Ya, melamar pekerjaan. 6 bulan ini sama sekali belum pernah mencoba ini. Liat-liat linkedin, jobstreet, sudah. Tapi lagi-lagi, merasa belum siap. Entah.

6 bulan di rumah aja ternyata benar-benar tidak baik untuk diri, walaupun sesekali masih keluar, tapi tetap saja. Benar-benar bukan kondisi yang baik, terutama untuk kesehatan mental.



Setelah 6 bulan ini, mungkin langkah awal baru dimulai (lagi). Sedikit demi sedikit diperbaiki, pelan-pelan disembuhkan. Doakan yaa agar diri ini segera disiapkan. 


*Tulisan ini mungkin akan diupdate lagi kedepannya untuk diperbaiki atau dilengkapi. Teruntuk kamu yang baca ini, terima kasih.  

Komentar